Peluang Usaha


Powered by Blogger.

Bisnis Kemitraan Makanan Soto

Posted by Info Peluang Usaha dan Bisnis

Soto, yang juga disebut sroto atau coto, merupakan salah satu makanan khas Indonesia. Makanan berkuah ini terbuat dari kaldu daging dengan isi sayuran. Uniknya, hampir setiap daerah di Indonesia punya soto khasnya sendiri. Sebut saja soto madura, soto betawi, coto makassar, dan soto padang. Makanan yang enak disantap panas-panas ini mudah dijumpai di tenda pinggir jalan sampai restoran mewah.

Tak heran, beberapa orang membuat usaha soto dan membungkusnya menjadi kemitraan. Kali ini KONTAN mengupas tiga kemitraan soto yang sebelumnya sempat kami tulis. Di 2008 kami membahas Soto Ayam Jolali, tahun 2009 Soto Abas, dan tahun 2010 Plasa Soto Nusantara.
Laju pertumbuhan jumlah kemitraan ketiga merek soto ini tinggi. Misalnya Soto Abas yang bisa melipatgandakan jumlah kemitraannya dalam satu setengah tahun.


  Plasa Soto Nusantara

Sejak menawarkan program kemitraan pada Maret 2010 hingga saat ini, Plasa Soto Nusantara punya dua mitra. Kedua mitra ini berada di Cibubur, Jakarta Timur dan Kelapa Gading, Jakarta Utara. "Di tahun ini kami belum punya target menggaet mitra. Kami pelan-pelan saja," tutur pemilik Plasa Soto Nusantara Benny Septiadi.

Plasa Soto Nusantara menawarkan dua paket kemitraan yakni restoran dan foodcourt. Investasi keduanya masih sama seperti ketika Plasa Soto Nusantara baru buka program kemitraan. Paket restoran bernilai investasi Rp 100 juta dengan masa kemitraan lima tahun.

Nilai investasi ini mencakup pelatihan pegawai, paket promosi, dan bimbingan sejak awal sampai peluncuran gerai. Nilai investasi ini belum termasuk sewa tempat dengan luas minimal 5 x 15 meter, peralatan memasak, dan biaya bahan baku awal sekitar
Rp 35 juta.

Sedangkan nilai investasi awal untuk paket foodcourt Rp 75 juta. Investasi awal ini belum termasuk sewa konter minimal 3 x 4 meter, peralatan memasak, dan modal beli bahan baku Rp 25 juta.

Mitra boleh membeli bahan baku di pemasok yang dekat dengan lokasinya berdagang. Namun, mitra tetap harus membeli bumbu soto dari pusat. Setiap mitra pun wajib menyetor biaya royalti sebesar 2,5% dari omzet setiap bulan. Satu tahun berlalu, Plasa Soto Nusantara yang bermarkas di Pekanbaru, Riau, ini tetap mempertahankan harga menu soto. Harga per porsi soto mulai dari Rp 12.000 hingga Rp 19.000. Harga-harga itu berlaku untuk 15 menu soto khas daerah.

Plasa Soto Nusantara menyediakan menu soto seperti soto medan, soto padang, soto pekanbaru, soto betawi, soto kudus, dan coto makassar. "Ke depan kami ingin menambah soto tangkar," ujar Benny. Ia yakin beragamnya menu soto daerah di satu tempat merupakan nilai jual yang tinggi untuk menggaet mitra lebih banyak lagi.


  Soto Abas

Ketika KONTAN mengulas Soto Abas November 2009 lalu, kemitraan yang berpusat di Surabaya ini baru punya 12 mitra. Saat ini, jumlah mitra Soto Abas naik dua kali lipat menjadi 24 mitra. Kebanyakan mitra berlokasi di Surabaya. Jumlahnya mencapai 18 outlet. Sisanya tersebar antara lain di Sidoarjo, Gresik, dan Yogyakarta. "Dalam waktu dekat kami juga akan meresmikan gerai ke-25 di Surabaya," tutur Cholis pemilik Soto Abas.

Untuk membuka gerai Soto Abas, calon mitra cukup menginvestasikan dana sebesar Rp 50 juta. Nilai investasi ini masih sama ketika Soto Abas memulai mewaralabakan usahanya tahun 2006. "Kami tidak mau membuat mitra hanya sebagai kelinci percobaan antuk melakoni usaha ini," tandas Cholis.

Dengan biaya investasi sebesar itu mitra mendapat perlengkapan makan dan minum, termasuk konter soto sebagai tempat berdagang. "Kalau dihitung-hitung jumlahnya kurang lebih ada 100 item dengan jumlah total mencapai 600 unit barang," jelas Cholis. Nilai investasi ini tidak termasuk biaya sewa tempat dan renovasi.

Mitra di luar Surabaya dibebankan biaya transportasi dan akomodasi. "Membangun sebuah outlet paling tidak memerlukan waktu sekitar dua minggu," kata Cholis.

Soto Abas tidak memberlakukan biaya royalti. Sama seperti Plasa Soto Nusantara, mitra harus membeli bumbu soto dari pusat. Mitra boleh membeli bahan baku lain seperti ayam dan beras di dekat lokasi mitra untuk menekan biaya produksi.

Idealnya untuk menjalankan usaha ini mitra perlu lahan seluas 60 sampai 70 meter persegi agar dapat menampung 24 pembeli. Satu gerai memerlukan enam pegawai.

Dalam sehari, Cholis mengatakan, penjualan soto bisa mencapai 100 sampai 300 porsi. Dengan jumlah penjualan itu, omzetnya bisa mencapai Rp 1 juta hingga Rp 3 juta. Jika target ini tercapai, mitra akan balik modal satu tahun.

Soto Abas menawarkan harga soto mulai dari Rp 5.000 sampai Rp 7.000. Harga yang murah ini memang dipasang untuk menggaet pembeli dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Misal, soto mini dengan porsi kecil harganya Rp 5.000, soto ayam Rp 6.000, dan soto jeroan Rp 7.000. Selain menu utama berupa soto, Soto Abas pun mengembangkan varian menu baru seperti nasi goreng jawa dan bakso ceker.


Soto Ayam Jolali

Tiga tahun membuka kemitraan, saat ini Soto Ayam Jolali sudah memiliki 25 mitra. Ketika KONTAN mengulas usaha ini Maret 2008, Soto Ayam Jolali baru mempunyai tiga mitra. Ketiga mitra ini berada di Jakarta, Surabaya, dan Sidoarjo. Kini mitra Soto Ayam Jolali sudah tersebar sampai ke luar Pulau Jawa, yakni Riau, Samarinda, dan Ambon.

Tak berpuas diri, di tahun ini Hendro Dwi Sriyantono, pemilik Soto Ayam Jolali, menargetkan 20 mitra baru. "Kalau ada peminat dari luar negeri, kami pun siap," katanya.

Soto Ayam Jolali sampai sekarang tetap mematok nilai investasi sama seperti tiga tahun lalu, Rp 20 juta untuk tipe gerobak atau tenda dan Rp 30 juta bagi tipe konter dalam ruangan. Nilai investasi itu mencakup gerobak, tenda ukuran 3 x 3 meter, meja kursi empat set, mangkok soto, perlengkapan masak, dan menu.

Di luar nilai investasi itu, ada biaya survei lokasi dan pengiriman bumbu dari pusat Soto Ayam Jolali di Surabaya. Yang berbeda, bila dulu tak pasang biaya royalti, saat ini Jolali mengutip biaya royalti dari mitra. "Besarannya 3,5% dari omzet per bulan," ujar Hendro.

Hendro memproyeksikan mitra bisa meraup omzet rata-rata Rp 15 juta per bulan. Omzet itu diperoleh dari penjualan 100 porsi soto per hari. Soto Ayam Jolali menjual soto seharga Rp 5.000 hingga
Rp 7.500 per porsi. Pengeluaran mitra mencapai Rp 10 juta per bulan yang mencakup biaya operasional, seperti gaji karyawan, sewa tempat, serta biaya listrik dan air.

Agar semakin banyak mitra, Hendro mempromosikan Soto Ayam Jolali lewat Facebook, Twitter, dan mailing list (milis). Hendro pun rajin ikut pameran waralaba. "Tapi lebih banyak calon mitra tahu kami dari media online dibanding dari pameran," katanya.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1301982245/63969/Jangan-khawatir-laba-kemitraan-soto-masih-hangat

Related Posts:

Post a Comment